Thursday, January 10, 2013

Korelasi Budaya di Cirebon dengan Komunikasi Antar Budaya

Berdasarkan buku Komunikasi Lintas Budaya karangan Larry A. Samovar, berikut adalah korelasi budaya di Cirebon dengan konsep Komunikasi Antar Budaya.
Elemen-elemen budaya :
1. Sejarah
Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa sejarah yang ada di Cirebon masih mempengaruhi dan mengatur pola kehidupan masyarakat sekitar keraton. Contohnya para abdi dalam, mereka masih menjalankan pola hidup sebagaimana yang ada di sejarah keraton walaupun sudah mengintegrasikannya dengan teknologi.

2. Agama
Agama menjadi elemen penting dalam perkembangan Keraton Kasepuhan dan juga Sanggar Sekar Pandan. Ornamen-ornamen bangunan di Keraton Kasepuhan secara jelas dan terang-terangan memasukkan elemen. Contoh saja Langgar Alit yang pilar-pilarnya berasal dari filosofi rukun Islam.

3. Organisasi Sosial
Organisasi Sosial disini jelas, Keraton Kasepuhan sendiri adalah organisasi sosial yang membentuk pola kehidupan di Cirebon, walaupun sekarang perannya sekarang sudah tergantikan oleh pemerintah.

4. Bahasa
Bahasa Jawa halus menjadi bahasa yang dipakai oleh rakyat sekitar keraton.

Karakteristik Budaya :
1. Budaya Itu Dipelajari
Di Keraton Kasepuhan, apa yang ada dan dijalankan sebagai budaya terus dijalankan dan diajarkan lewat adanya edukasi baik terhadap rakyat Cirebon maupun tulis. Hal ini dimaksudkan untuk terus mengingatkan para rakyat Cirebon tentang asal-usul mereka, dan juga memberikan pemahaman baru bagi mereka yang turis. Pelajaran formal budaya ditunjukkan dari adanya sarana yang disediakan dari keraton untuk proses pembelajaran budaya lewat tour, juga adanya literatur untuk mengetahui budaya Cirebon dengan lebih lanjut. Adanya legenda dan mitos juga menjadi sesuatu yang ditonjolkan di Keraton Kasepuhan, seperti adanya larangan untuk masuk di beberapa bagian dari kompleks Keraton Kasepuhan. Pembelajaran melalui karya seni juga dapat dilihat di Sanggar Sekar Pandan dimana pagelaran dan latihan terus dilakukan walaupun terus digerus oleh modernisasi.

2. Budaya itu Diturunkan dari Generasi ke Generasi
Adanya sistem organisasi keraton yang jelas secara simultan menurunkan budaya ke generasi seterusnya. Bahkan di Keraton Kasepuhan ritual-ritual keagamaan dan kerajaan masih dilakukan meski kota Cirebon telah berkembang pesat.

3. Budaya itu Didasarkan Pada Simbol
Lihatlah tiang yang ada di Langgar Alit. Pilar tengah yang memiliki empat "dahan" diatasnya melambangkan elemen-elemen bumi. Tiang-tiang yang ada melambangkan rukun Islam. Melangkah ke dalam, Bangsal Panembahan menawarkan simbolisme Wali Songo di sembilan warna kain di depan tempat peristirahatan raja. Feng Shui juga diwujudkan dalam orientasi arah ruangan dengan tujuan tertentu.

4. Budaya itu Dinamis
Perhatikan elemen bangunan yang ada di Keraton Kasepuhan. Berbagai bahan bangunan atau hiasan berasal dari belahan dunia lain seperti Eropa dan Asia. Hal ini menunjukkan bahwa Keraton Kasepuhan dengan budayanya yang kental juga membuka diri terhadap budaya luar yang kemudian mengembangkan budaya itu sendiri.




Sanggar Sekar Pandan


Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya, dan mengalami perkembangan dalam
hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh
saru penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.
Pada dasarnya masing-masing topeng yang mewakili masing-masing karakter
menggambarkan perwatakan manusia.








Tari ini karya Nugraha Soeradiredja. Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta
iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, merupakan ciri khas lain dari tari
topeng.Kesenian Tari Topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan
masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional
daerah lainnya.
Ada lima karakter tari topeng, yaitu Topeng Panji, Topeng Samba, Topeng Rumyang,
Topeng Tumenggung, Topeng Kelana/Rahwana. Sunan Gunung Jati menmanfaatkan tari
topeng ini sebagai alat dakwah untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Cirebon.

Kereta Singa Barong


Kereta yang asli sudah dimuseumkan sejak tahun 1942, jadi kereta yang dipertontonkan di keraton adalah duplikatnya. Dulu kereta yang asli digunakan untuk keliling dalam rangka perayaan hari jadi Cirebon.
Kereta yang asli dibuat tahun 1549 atas perwujudan tiga binatang, yaitu belalai gajah, kepala naga, dan sayap burung Garuda. Belalai gajah melambangkan Cirebon bersahabat dengan negara India yang beragama Hindu. Kepala naga melambangkan Cirebon bersahabat dengan negara Cina yang beragama Buddha. Dan sayap burung Garuda melambangkan Cirebon bersahabat dengan negara Mesir yang beragama Islam.








Ketiga unsur kebudayaan ini disatupadukan menjadi senjata trisula yang dipegang oleh belalai gajah dan diangkat tinggi ke langit. Tri artinya tiga, sula artinya tajam. Namun maksudnya bukan seberapa tajamnya senjata ini, melainkan tajamnya alam pemikiran manusia (cipta, rasa, karsa). 

Keraton








Sampai sekarang masih digunakan untuk upacara turunnya panjang … atau memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad.
Ada gedung yang dibuat agak miring, namanya Bangsal Elos Gajah Nguli. Nama ini diambil dari nama gajah yang sedang mengeluarkan suara khasnya. Karena saat gajah melakukan ini, belalai panjangnya agak bengkok. Miringnya gedung ini menghadap kearah kiblat yang ada di utara. Karena di sana ada unsur budaya Cina, mereka pun menurut kepada sebuah fengshui bahwa pintu depan dan pintu belakang tidak boleh sejajar. Jika sejajar rezeki akan cepat masuk tapi juga akan cepat keluar.
Ada pula bangsal yang lain yaitu Bangsal Prabayaksa. Praba artinya prabu atau besar, yaksa artinya sayap. Arti Prabayaksa adalah bahwa seorang pemimpin dalam melindungi rakyatnya sepeti seekor induk ayam melindungi anak-anaknya dengan sayapnya yang besar. Bangsal ini fungsinya untuk musyawarah menteri-menteri keraton. Sekarang fungsinya untuk menyambut tamu-tamu kerajaan.

Langgar Agung dan Langgar Alit



Bangunan Langgar Agung berbentuk “T” terbalik karena teras depan lebih besar dari bangunan utama. Bagian teras berdinding kayu setengah dari permukaan lantai, kemudian setengah bagian atas diberi terali kayu. Atap Langgar Agung merupakan atap tumpang dua dengan menggunakan sirap. Konstruksi atap disangga empat tiang utama. Langgar ini berfungsi sebagai tempat ibadah kerabat Keaton.
Langgar Alit disebut juga musholla kecil. Masih fungsinya untuk tadarus setelah salat terawih kemudian membunyikan terbang/gembyung, dan juga untuk memperingati hari-hari besar Islam. 

Taman Dewandaru, Pendopo Sri Manganti, Jinem Pangrawit, dan Gapura







TAMAN; BUNDERAN DEWANDARU
Masuk ke Keraton Kasepuhan, kami disambut oleh sebuah taman yang berbentuk bundar. Di sana ada sebuah patung lembu yang dinamakan Lembu Nandi. Patung lembu ini melambangkan kepercayaan agama Hindu sebelum Islam masuk. Seperti yang kita ketahui, sapi adalah hewan suci bagi agama Hindu karena hewan ini adalah tunggangannya dewa. Di Keraton Kasepuhan ini pak Satu bercerita ada budaya dupa, budaya tasbih yang berasal dari agama Hindu dan Buddha. Hal ini terjadi karena Sunan Gunungjati toleran sekali dan tidak membeda-bedakan agama.
Taman Bunderan Dewandaru. Dewandaru itu nama pohon. Kalau dibakar, kayunya wangi sekali. Maka dari itu suka dipakai untuk dupa. Dewan artinya perkumpulan, daru artinya cahaya. Jadi, kalau kita duduk di kursi pemerintahan kita harus bisa “memberikan cahaya” kepada perkumpulan kita.
Patung macan melambangkan bahwa keraton Kasepuhan ini adalah penerus kerajaan Pajajaran.
Meja batu dari kerajaan Kalingga, Gujarat/India dibawa doktor Raffles dari Inggris.
2 meriam; Meriam Ki Satoma dan Meriam Nyi Satomi (laki2 dan perempuan). Persembahan dari kerajaan Galuh Pakuhan.

PENDOPO SRI MANGANTI
Pendopo Sri Manganti terletak di sebelah timur. Sri artinya sri sultan atau raja, sedangkan manganti artinya menanti. Jadi, fungsinya pendopo ini adalah menanti keputusan raja.

JINEM PANGRAWIT
Untuk tempat tugas pangeran atau pengawas sultan apabila menerima tamu-tamu kenegaraan. Jinem artinya tugas, pangrawit artinya kecil, baik, lurus. Jadi kalau ada tamu-tamu agung atau tamu-tamu kerajaan yang masuk ke keratin memiliki niat yang baik. Sampai sekarang masih berfungsi untuk tempat tugas pangeran atau wakil sultan atau pengawal sultan.
Di sana ada lampu kristal dari Perancis yang sudah ada sejak tahun 1738. Ada juga porselen yang berwarna coklat dan biru yang berasal dari Belanda sejak tahun 1745.

  GAPURA
Kayu daun pintunya direndam dulu di air supaya kuat dan tahan dari rayap. Pintu ini dibuat tahun 1529, bahannya kayu jati. Keramik-keramiknya dari kaisar Ming dari Cina, dari tahun 1424.

Our Tour Guide

Setiba di keraton, kami disambut oleh seorang bapak yang menjadi tour guide kami keliling keraton. Namanya Satu. Bapak Satu ini orangnya sungguh santun. Setiap menjelaskan sesuatu beliau pasti akan berkata, “punten mbak, mas,” hehehe…